Jumat, 29 April 2016

Sejarah hubungan kolonial antara Raffles dan Keraton Yogya

Gambar Ilustrasi Merdeka.com
Jakarta, Milist.info Kali ini milist.info memuat artikel tentang Sejarah hubungan kolonial antara Raffles dan Keraton Yogya sebagaimana dilansir dari merdeka.com. Inggris adalah salah satu negara yang pernah menjajah negara kita. Nah, salah satu penguasa yang paling terkenal di masa penjajahan Inggris adalah Thomas Stampford Raffles. Di masa pemerintahannya, Raffles menggunakan tiga prinsip yaitu, kerja rodi dan penyerahan wajib diganti dengan penanaman bebas oleh rakyat, peran bupati sebagai pemungut pajak diubah karena bupati menjadi bagian dari pemerintahan kolonial, dan karena tanah adalah milik pemerintah, maka rakyat adalah penyewa.


Salah satu taktik yang dia gunakan untuk menguasai wilayah Jawa adalah menjalin persahabatan dengan para raja. Namun sayang, Raffles mulai melupakan persahabatan itu ketika brhasil mencapai tujuannya. Lalu, bagaimana kisahnya?

Salah satu kerajaan yang menjalin persahabatan dengan Belanda adalah Keraton Yogyakarta. Namun, konflik yang ditimbulkan oleh pemecatan Sultan Sepuh nggak semakin mereda, malah semakin panas. Sultan Sepuh yang pernah dipecat oleh Daendels, kembali sebagai Sultan Hamengkubuwana II dan Sultan Raja meminta pengembalian kedudukannya sebagai putera mahkota. Namun Sultan Raja nggak puas dengan keputusan yang diambil oleh ayahnya. Akhirnya, Sultan Raja mengirim surat kepada Raffles melalui Babah Jien Sing. Isi surat itu mengatakan bahwa keadaan Yogyakarta dibawah kekuasaan Sultan Hamengkubuwono II menjadi nggak terkendali.

Setelah membaca surat itu, Raffles menjadi berfikir bahwa Sultan Hamengkubuwono II adalah seseorang yang nggak bisa diajak kerjasama dan bisa menjadi halangan buat dia. Setelah membaca surat itu, Raffles mengirimkan pasukan untuk menurunkan tahta Sultan Hamengkubuwono II.
Nah, sekarang kamu sudah tahu bahwa Raffles memiliki pemikiran bahwa siapapun yang menghalangi jalannya harus disingkirkan agar tidak mengganggu. Hal ini membuat rakyat kebingungan tentang siapa penguasa yang sedang memimpin. Lalu, bagaimana pendapatmu?

0 komentar: