Selasa, 05 Februari 2019

Etika dan Manajemen Sumber Daya Manusia

Menlanjutkan dari materi Peranan Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Organisasi kali nini materinya adalah Etika dan Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam konteks yang luas, kita melihat bahwa kemajuan-kemajuan yang ditimbulkan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi bersifat ambivalen. Maksudnya, di samping mendatangkan banyak dampak positif, terdapat pula akibat-akibat negatif. Perkembangan-perkembangan mutakhir dalam bidang bioteknologi, rekayasa genetika atau masalah reproduksi artifisial, misalnya : selalu mengandung prosoalan-persoalan etika.


Demikain pula denga dunia usaha. Bisnis adalah bagian dari sistem sosial oleh karena itu kita tidak dapat mengisolasikan unsur-unsur ekonomi sebuah keputusan dari konsekuensi sosialnya (SirAdrian Cadbury, 1987). Dengan kata lain setiap keputusan bisnis memiliki tidak saja implikasi ekonomi tetapi juga implikasi etis bagi masyarakat luas. Adalah bermanfaat bagi siapa saja yang sangat bertanggung jawab atas keputusan bisnis yang dibuat untuk memasukan etika sebagai faktor pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan atau penyeselesaian masalah dan sekaligus memikirkan perpaduan terbaik antara pertimbangan-pertimbangan komersial dan pertimbangan etik. Singkatnya, isu-isu etika dalam dunia bisnnis adalah sesuatu yang tak dapat dielakan.

Baca Juga : Fungsi-fungsi SDM


1. Definisi etika
Etika (ethics) mengandung sejumlah pengertian. Etika sebagai nilai-nilai dan norma-norma moral yang digunakan oleh seseorang atau sebuah kelompok sebagai pegangan bagi tingkahlakunya, atau singkatnya etika adalah sistem nilai (Berten, 1993)



Kedua, etika sebagai kumpulan prinsip dan nilai moral yang mengatur perilaku sebuah kelompok khususnya suatu profesi. Dalam pengertian ini, etika sering disebut sebagai kode etik atau etika profesi (Professional Ethics) P.F. Chamisch mengatakan bahwa profesi adalah suatu moral community yang memiliki cita-cita dan nilai-nilai bersama dalam kurung (Dalam Bertens, 1993)

Ketiga, etika sebagai ilmu tentang apa yang baik dan buruk tentang apa yang harus dilakukan manusia dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Di sini etika adalah filsafat moral etika bisnis terutama mencakup pengertian pertama dan kedua yang disebutkan di atas.
Stoner Freeman dan Gilbert (1995) mengelompokkan pertanyaan-pertanyaan etik etika dalam dunia bisnis ke dalam empat jenjang yaitu
  1. "Masyarakat" di sini dipersoalkan bentuk kelembagaan atas institusi dasar dalam suatu masyarakat misalnya tentang sistem sosial sistem politik dan sistem ekonomi.
  2. "Stakeholder" pada jenjang ini kita mempertanyakan bagaimana seharusnya sebagai organisasi atau perusahaan berhubungan dengan pihak-pihak yang terkena dampak dari keputusan keputusannya Dan juga bagaimana seharusnya para stakeholder berhubungan dengan perusahaan. Keputusan untuk memasarkan sebuah produk baru koma misalnya koma bukan saja didasarkan pada manfaat yang akan diterima oleh konsumen atau pemakai tetapi harus mempertimbangkan dampak yang ditimbulkannya terhadap masyarakat luas terhadap ekosistem usaha konservasi sumber daya alam dan sebagainya.
  3. "Kebijakan internal" tingkat ketiga dari isu etika atau moral berkaitan dengan kebijakan internal organisasi kita mempersoalkan karakteristik hubungan antara suatu organisasi perusahaan dengan para karyawannya. Bagaimana membuat perjanjian kerja yang adil? Apa hak dan apa kewajiban Pimpinan dan anggota anggota lainnya? Apakah pekerja memiliki hak dan berpartisipasi dalam pengelolaan perusahaan?
  4. "Pribadi" jenjang terakhir menyangkut isu-isu moral yang bersifat pribadi kita harus mempertanyakan bagaimana seharusnya orang orang memperlakukan satu sama lain dalam suatu organisasi apakah kita harus selalu bersikap jujur apapun konsekuensinya? Apa kewajiban kita sebagai manusia dan sebagai pekerja terhadap aturan bawahan dan rekan kerja kita?
Persoalan-persoalan etika dalam segala konsekuensinya itu sangat lazim terjadi dalam aktivitas bisnis pada semua jenjang. Persoalan-persoalan itu seringkali juga bersifat dinamis bagi pelaku pelaku aktivitas aktivitas bisnis yang "diharapkan" untuk setiap kali memenangkan perilaku yang etis (etichal behavior). Ini tidak mudah dilakukan karena mereka dituntut untuk selalu bersikap dan berharap acuan normatif mereka dan pada saat yang sama menghubungkan prinsip-prinsip etis yang mereka anut.


    

0 komentar: